SINGARAJA BALI KUTA OLIMPIADE TOFI PENDIDIKAN buleleng smun1singaraja sman singaraja smun1singaraja smun 1 singaraja sma 1 singaraja lovina travel smansa sekolah smansa 98 98 Bali smansa singaraja denpasar sma1 smu1 smp1 sma smu smun smu negeri singaraja sma 4 singaraja smk1 smun1 hotel travel to bali jalan-jalan balinesse dance hotel reservation bali beach nusa dua benoa kuta ubud kintamani bedugul
::: Smansa98 News Text ::: Wedding Reception on Sept 18th 2010 6.30 PM, ARSA W. and GINA ,Garden Hall - Hotel Singaraja ::: Berita Pernikahan : YUSADANA dan NIA , Desa Telaga Busungbiu 9 September 2010 15PM ... SELAMAT BERBAHAGIA :::

Thursday, September 23, 2010

Smansa98 Futsal Team

Ditunggu untuk meramaikan khususnya yg tinggal di Singaraja
Latihan Setiap Kamis Sore di Lapangan Futsal Jalan Udayana
Neh ada beberapa gambar-gambar kegiatan futsal Smansa98




yang cewek2 bisa jadi CheerLeaders juga lhooo

Friday, September 10, 2010

ARSA & GINA : Invitation On Their Wedding Reception

(klik pada gambar untuk gambar lebih jelas)

ARSA & GINA
Singaraja, sept 18 - 6:30 pm
Garden Hall - Hotel Singaraja


SELAMAT BUAT MANG UNYIL ...



.

Thursday, June 10, 2010

WORLD CUP DIMULAI !!







WAKA - WAKA by SHAKIRA



SEMARAK PIALA DUNIA 2010
AFRIKA SELATAN




AYO ikuti Penggalangan Dana SMANSA98

"TEBAK JUARA PIALA DUNIA"

silahkan ikut gabung di milist smansa98
dengan mengirim email ke :
smansa_98-subscribe@yahoogroups.com

(jangan lupa sertakan nama anda)





'

Thursday, March 11, 2010

Kirastha's Wedding Invitation


Dear All,

You are cordially invited to celebrate the wedding of

I Ketut P. Kirastha

and

Shanti Nata Artha

On Saturday Afternoon
March the 20th, 2010
at 12 o'clock (local time)

Jl. Karangsari V/22
(Gatsu Barat)
Padang Sambian Kaja
Denpasar-Bali

Please join in the celebration

Thanks

Best regards,
Kirastha and Shanti



(klik gambar untuk memperbesar)
[Denah+edit2.jpg]


.

Thursday, December 03, 2009

Monday, October 19, 2009

Mohon Bantuan Rekan Smansa98'ers

Beberapa waktu yang lalu, kawan kita , Juliartini, mengirimkan sebuah email ke saya , dia menceritakan kondisi anaknya yang bernama "Bilva" (2TH) mengalami suatu kondisi belum bisa berbicara-dengar (bisu-tuli) , kesulitan penglihatan , dan belum bisa berjalan. Juli yang tinggal di Singaraja mengalami kesulitan untuk memperoleh informasi mengenai penyakit / cacat anaknya. Dan juli pernah meng-ekspresikan bahwa dia "stress" memikirkan anaknya.

Setelah mendapat persetujuan dari juli untuk mengexpose kondisi anaknya ini ke dunia maya, saya rasa blog ini bisa menjadi tempat berbagi. Yang juli butuhkan adalah bantuan informasi , kemana sebaiknya meng-konsultasikan ( dokter tentunya sudah ) keadaan anak tercintanya? Apakah di seputar Bali ada yayasan/organisasi yang berhubungan dengan CACAT GANDA?

Tentunya juli sangat membutuhkan uluran tangan kita semua, dan atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih






Nama Anak : I Wayan Bilva Bhuaneswara Gelgel Puja
Ttl : 5 Mei 2007

Nama Ibu : Ni Luh Juli Artini,ST
Nama Ayah : I Ketut Puja Astawan A.Md

email si ibu : artini.luli@gmail.com

no hp ibu : 081936319807

alamat : Jln. Wr supratman ,
Depan pom bensin penarukan ( warung i luh)
SINGARAJA-BALI


Bagi teman-teman yang mungkin lupa , Juli Artini yang ini looo..

Monday, September 28, 2009

Happy Kardiawan vs Desy Krisma Yani

[photo lebih lanjut klik disini]




Kamis 1 Oktober 2009, 14:30 WITA
Jl. SetiaBudi, Gg Angsoka
Desa Penarungan, Singaraja







......

Tuesday, August 25, 2009

SLANK in English ...






I took my guitar
and I begin to play
those old familiar songs
from our yesterdays

but only half way through
the things I should have said
those old memories came
flown into my head

reff:
oh you're so sweet
too sweet to forget
memories of being alone with you
it's all in my dream

you're just so sweet
too sweet to forget
you don't love me the same
as I love you
it's not to be I regret

hmmmm days are passing by
the wind begins to blow
season's changing and
the leaves begin to grow

but the words inside my head
would forever stay true
wherever i may go
whatever i may do


.

Tuesday, August 18, 2009

Bule Panjat Pinang di Ancol !




Lomba panjat pinang dalam rangka HUT RI ke-64 yang digelar PT. Pembangunan Ancol di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta, Senin, dimeriahkan oleh bule atau warga asing yang kebetulan menginap di hotel yang berada di lokasi wisata tersebut.

Dalam acara yang sudah menjadi tradisi tersebut, panitia menyediakan sebanyak 264 pohon pinang dan menyediakan berbagai hadiah, diantaranya sepeda.

Enam diantara pohon tersebut tidak dilumuri oli dan dipanjat oleh warga asing asal Australia dan Selandia Baru, namun hanya satu pohon yang berhasil ditaklukkan oleh mereka.

Direktur PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk Budi Karya Sumadi mengatakan, untuk menyambut perayaan HUT RI ke 64, Ancol mengadakan "Pesta Manusia Merdeka" untuk menggugah semangat nasionalisme.

"Kami berharap melalui rangkaian Pesta Manusia Merdeka inilah, semangat maupun kebanggaan menjadi warga negara Indonesia akan tergugah," ujar Budi Karya.

Keikutsertaan ekspatriat dalam atraksi panjat pinang diharapkan bisa menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati antara seluruh umat manusia.

Sementara itu Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang membuka acara panjat pinang mengatakan atraksi merayakan HUT RI ke 64 dengan penuh kegembiraan adalah milik semua orang.

"Dengan panjat pinang diharapkan akan terjalin rasa persaudaraan dan kebersamaan," kata Fauzi yang dalam kesempatan itu juga mengajak warga untuk Jakarta untuk memerangi terorisme.

"Jangan ada rasa takut dengan teroris, mari kita lawan," kata Fauzi sampai menambahkan selain memerangi terorisme, warga juga harus memerangi kemiskinan.

Wednesday, August 05, 2009

I LOVE YOU FULL ....ha..ha...haa..haa

"Ternyata Orang2 di Surga Pengen Dihibur Kamu Juga ....."




Wednesday, July 29, 2009

weh...ada SINGARADJA indonesisch restaurant

dapet di : www.singaradja.nl


" Een traditioneel Indonesisch Restaurant in een modern jasje. Traditioneel omdat er drie generaties werken die ook al hun gerechten en smaken inbrengen.Op de kaart staan gerechten uit verschillende delen van Indonesië, waarbij de 'klassiekers' en rijsttafels natuurlijk niet ontbreken. Varkensvlees eten is er bij ons overigens niet bij. Onze geregeld wisselende wijnkaart maakt uw avondje (rijst)tafelen helemaal compleet. "


nah Looo !!! afgi, tolong terjemahin !!
mbah google terjemahannya kaya gini :


"J tradisional Indonesia di restoran modern jaket. Tradisional, karena ada tiga generasi yang bekerja semua hidangan dan rasa inbrengen.Op menu hidangan dari berbagai daerah di Indonesia, yang klasik dan meja beras jelas tidak kurang. Babi adalah makan malam kami tidak. Kami secara teratur mengubah daftar anggur yang membuat sore (beras) makan lengkap. "

dooohh...kacauu..
englishnya aja dehhh

" A traditional Indonesian restaurant in a modern jacket.
Traditionally, because there are three generations that work all their dishes and flavors inbrengen.Op the menu dishes from different parts of Indonesia, the classics and rice tables clearly not lacking.
Pork dinner is on us not to. Our regularly changing wine list makes your evening (rice) meal complete. "


menunya:

• Daging Rendang (pittig rundvleesgerecht)
• Daging Semur (rundvleesgerecht in ketjapsaus)
• Abon Singaradja (pittige rundvleesvezels)
• Ayam Bali (kip in pittige sambalsaus)
• Ayam Pangang Ketjap (kip in ketjapsaus)
• Saté Ayam (2 stokjes kipsaté)
• Saté Kambing (2 stokjes lamssaté)
• Sambal Goreng Telor (eieren in pittige saus)
• Sambal Goreng Buncis (pittige boontjes)
• Sajorr Lodeh (diverse groenten in boullion)
• Sambal Goreng Peté (gekruide peté-bonen)
• Gado-Gado (groentenschotel met een pindasaus)
• Seroendeng (gekruide cocos met pinda’s)
• Sambal Goreng Tempe (zoetpittig sojagerecht)
• Atjar Tjampoer (zoetzure groenten)
• Pisang Goreng (gebakken banaan)
• Roejak Manis (vruchtjes in zoetpittige saus)
• Kroepoek en Sambal Bajak
• Spekkoek (gekruide koek voor bij de koffie)



Tempatnya disini nih , afgi silahkan ke TKP !




• Ginnekenweg 24 • 4818 JE Breda • telefoonnummer [076] 514 79 00

Monday, July 27, 2009

Dari Biografi Sukarno , Penjambung Lidah Rakjat



...............................selengkapnya download di sini ......

Aku adalah anak dari seorang ibu kelahiran Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, asalnja dari keturunan bangsawan. Radja Singaradja jang terachir adalah paman ibu. Bapakku berasal dari Djawa. Nama lengkapnja Raden Sukemi Sosrodihardjo. Dan bapak berasal~dari keturunan Sultan Kediri. Lagi-lagi, merupakan suatu kebetulan ataupun suatu takdir padaku bahwa aku dilahirkan dalam lingkungan kelas jang berkuasa. Namun betapapun asal kelahiranku ataupun nasibku, pengabdianku untuk kemerdekaan rakjatku bukanlah suatu keputusan jang tiba-tiba. Aku mewarisinja. Semendjak ta-hun 1596, jaitu pada waktu Belanda per tamakali menjerbu kepulauan kami, maka tindakan Belanda menguasai daerah kami dan perlawanan kami jang sia-sia dalam merebut kembali tanah-pusaka kami telah membikin hitam Iembaran-lembaran dalam sedjarah kami. Kakek dan mojangku dari pihak ibu adalah pedjuang-pedjuang kemerdekaan jang gagah. Mojangku gugur dalam Perang Puputan, suatu daerah dipantai utara Bali ditempat mana terletak Keradjaan Singaradja dan dimana telah berkobar pertempuran sengit dan bersedjarah melawan pendjadjah. Ketika mojangku menjadari, bahwa semuanja telah hilang dan tentaranja tidak dapat menaklukkan lawan, maka ia dengan sisa orang Bali jang bertjita-tjita mengenakan pakaian serba putih, dari kepala sampai kekaki. Mereka menaiki kudanja, masing masing menghunus keris, lalu menjerbu musuh.

Mereka dihantjurkan. Radja Singaradja jang terakhir setjara litjik dikeluarkan oleh Belanda dan keradjaannja. Kekajaannja, tempat tinggal, tanah dan semua miliknja dirampas. Mereka mengundangnja kesebuah kapal perang untuk berunding. Begitu sampai diatas kapal, Belanda menahannja setjara paksa, lalu berlajar dan mendjebloskannja ketiempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananja dan merampas miliknja, keluarga ibu djatuh melarat. Karena itu kebentjian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnja dan ini disampaikannja kepadaku.Ditahun 1946, ketika itu umur ibu sudah lebih dari 70 tahun, Republik kami jang masih muda terlibat dalam pertempuran-pertempuran djarak dekat dengan musuh. Dalam suatu pertempuran, pasukan kami berkumpul dipekarangan belakang rumah ibu di Blitar. Kisah ini kemudian ditjeritakan oleh pedjuang gerilja kepadaku, ,,Ditempat ini keadaan gerakan kami tenang sekali. Kami semua tiarap menunggu. Rupanja ibu tidak mendengar apa-apa dari pihak kita. Tidak ada tembakan, tidak ada teriakan. Dengan mata jang bernjala-njala beliau keluar mendatangi kami, 'kenapa tidak ada tembakan ? Kenapa tidak bertempur ? Apa kamu semua penakut ?

Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda Hajo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda-Belanda itu !'" Pihak bapakpun adalah patriot-patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannja dibawah seorang Puteri, namun dia seorang pedjoang-puteri disamping pahlawan besar kami, Diponegoro. Dengan menaiki kuda dia mendampingi Diponegoro sampai menemui adjalnja dalam Perang Djawa jang besar itu, jang berkobar dari tahun 1825 sampai tahun 1830.Sebagai kanak-kanak aku tidak mendapat tjeritera-tjeritera seperti ditelevisi atau tjeritera Wild West jang dibumbui. Ibu selalu mentjeritakan kisah-kisah kebangsaan dan kepahlawanan. Kalau ibu sudah mulai bertjerita, aku lalu duduk dekat kakinja dan dengan haus meneguk kisah-kisah jang menarik tentang pedjoang-pedjoang kemerdekaan dalam keluarga kami. Ibupun mentjeritakan tentang bagaimana bapak merebutnja. Semasa mudanja ibu mendjadi seorang gadis-pura jang pekerdjaannja membersihkan rumah-ibadat itu setiap pagi dan petang. Bapak bekerdja sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaradja dan setelah selesai sekolah sering datang kelubuk dimuka pura tempat ibu bekerdja untuk menikmati ketenangannja.

Pada suatu hari ia melihat ibu. Pada kesempatan lain ketika duduk lagi dekat lubuk itu ia melihat ibu sekali lagi. Setelah sore demi sore berlalu, ia menegur ibu sedikit. Ibu mendjawab. Segera ia merasa tertarik kepada ibu dan ibu kepadanja. Seperti biasanja menurut adat, bapak mendatangi orangtua ibu untuk meminta ibu setjara beradat. ,,Bolehkah saja meminta anak ibu-bapak ?" Orangtua ibu lalu mendjawab ,,Tidak bisa. Engkau berasal dari Djawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak ! Kami akan kehilangan anak kami. 'Seperti halnja dengan keadaan sebelum Perang Dunia Kedua, perempuan Bali tidak ada jang mengawini orang luar. Jang kumaksud bukan orang luar dari negara lain, akan tetapi orang luar dari pulau lain. Waktu itu tidak ada perkawinan tjampuran antara satu suku dengan suku lain samasekali.

Kalaupun terdjadi bentjana sematjam ini, maka pengantin baru itu diasingkan dari rumah orangtuanja sendiri. Suatu keistimewaan dari Sukarno, ia dapat menjatukan rakjatnja. Warna kulit kami mungkin berbeda, bentuk hidung dan dahi kami mungkin berlainan lihat orang Irian hitam, lihat orang Sumatra sawomatang, lihat orang Diawa pendek-pendek, orang Maluku lebih tinggi, lihat orang Lampung mempunjai bentuk sendiri, rakjat Pasundan mempunjai tjiri sendiri, akan tetapi kami tidak lagi djadi inlander atau menganggap diri kami orang-asing satu sama lain. Sekarang kami sudah mendjadi orang Indonesia dan kami satu. Sembojan negeri kami Bhineka Tunggal Ika ,,Berbeda-beda tapi satu djua',.Kembali kepada kisah bapakku, betapa sukanja situasi ketika ia hendak mengawini ibu. Terutama karena ia resminja seorang Islam, sekalipun ia mendjalankan Theosofi. Untuk kawin setjara Islam, maka ibu harus menganut agama Islam terlebih dulu. Satu-satunja djalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus mengikuti tata-tjara tertentu.

Kedua merpati itu bermalam dimalam perkawinannja dirumah salah seorang kawan. Sementara itu dikirimkan utusan kerumah orangtua sigadis untuk memberitahukan bahwa anak mereka sudah mendjalankan perkawinannja. Ibu dan bapakku mentjari perlindungan dirumah Kepala Polisi jang mendjadi kawan bapak. Keluarga ibu datang mendjemputnja, akan tetapi Kepala Polisi itu tidak mau melepaskan. ,,Tidak, dia berada dalam perlindungan saja," katanja. Bukanlah kebiasaan kami untuk menghadapkan pengantin kemuka pengadilan, sekalipun orangtua tidak setudju. Akan tetapi kedjadian ini adalah keadaan jang luarbiasa ketika itu. Bapak seorang IslamTheosof dan ibu seorang Bali Hindu-Buddha. Pada waktu perkara itu diadili, ibu
ditanja, ,,Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri ?" Dan ibu mendjawab, ,,Tidak, tidak. Saja mentjintainja dan melarikan diri atas kemauan saja sendiri."Tiada pilihan lain bagi mereka, ketjuali mengizinkan perkawinan itu. Sekalipun demikian pengadilan mendenda ibu 25 ringgit, jang nilainja sama dengan 25 dollar. Ibu mewarisi beberapa perhiasan emas dan untuk membajar denda itu ibu mendjual perhiasannja.Karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengadjukan permohonan kepada Departemen Pengadjaran untuk dipindahkan ke Djawa. Bapak dikirim ke Surabaja dan disanalah putera sang fadjar dilahirkan.


......................................................

Tuesday, July 21, 2009

Renungan Bagi Kita Semua

JAKARTA, kompas..com - Bagi sebagian orang, memaafkan mungkin salah satu hal yang paling sulit dilakukan. Apalagi jika harus memaafkan orang yang telah membunuh anggota keluarganya. Namun lain halnya dengan Victor Mocodompis (70), yang anaknya Evert Mocodompis, tewas akibat ledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton Jumat (17/7) lalu.

Evert mengaku ia dan keluarga besar Mocodompis telah memaafkan siapapun yang menjadi dalang dan pelaku bom di kawasan Kuningan yang telah menewaskan putra keduanya itu. "Ada tertulis, jika pipi kananmu ditampar maka berikanlah pula pipi kirimu. Kasihilah musuh-musuhmu. Dari hati yang paling dalam saya sudah maafkan mereka," kata Victor dengan nada lirih, Senin (20/7).

Padahal sejak wafatnya Evert, praktis keluarga Victor Mocodompis kini hanya menyisakan satu anak. Yakni Jefry Mocodompis, si putra bungsu. "Evert adalah putra kedua. Dua orang saudaranya juga sudah lebih dulu mendahuluinya," kata Edward seorang kerabat Victor Mocodompis di GPIB Kasih Karunia.

Kesedihan makin mendalam, mengingat Evert juga meninggalkan istrinya Ratna dan dua buah cinta mereka. Adalah Angel (5), putri pertama pasangan Evert dan Ratna. Sementara putra keduanya yang bahkan belum sempat diberi nama tak sempat pula dilihat oleh almarhum. Maut ternyata lebih dulu menjemput Evert sebelum ia sempat melihat putra keduanya lahir ke dunia.

Sementara Ratna, wanita asal Klaten yang dinikahi Evert enam tahun silam, masih dalam perawatan pascamelahirkan di salah satu rumah sakit di Ciledug. Kesedihan Ratna tentu makin berlipat karena ia sendiri tak mampu hadir menyaksikan pemakaman sang suami karena kondisinya yang masih lemah.

Meskipun merasakan kepedihan yang mendalam, Victor mengaku menyerahkan semuanya kepada rencana Tuhan. Agaknya bagi Victor, meskipun si pelaku berhasil menghilangkan nyawa Evert, namun tidak demikian dengan jiwa dan kenangannya bersama putra tercintanya itu. "Evert akan tetap ada di hati kami", ujar pria asal Sangir, Sulawesi Utara ini.

Wednesday, June 24, 2009

Debat Cawapres part 1 .....(membosankan ?)

http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/24/0535243p.jpg


Debat calon wakil presiden yang diadakan Komisi Pemilihan Umum, Selasa (23/6) di Jakarta, lebih semarak dilihat dari penonton yang hadir. Namun, bila dilihat dari format, debat berlangsung normatif.

Ruangan Hall Lantai 8 SCTV Tower penuh sesak dengan penonton. Mereka datang dari kalangan pendukung ketiga pasangan calon presiden-calon wakil presiden, peneliti, pengamat, jurnalis, aktivis lembaga swadaya masyarakat, pengusaha, dan pegawai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tujuh komisioner KPU, dengan baju seragam batik, duduk di barisan depan.


Tepuk tangan penonton lebih sering terdengar dibandingkan saat debat calon presiden (capres), pekan lalu. Bahkan, tepuk tangan dilakukan pengunjung saat cawapres berbicara. Padahal, sebelum siaran, pengelola SCTV mengingatkan agar tak ada tepuk tangan dari pengunjung sebelum cawapres selesai bicara.


Suasana kian menarik saat memasuki pertanyaan keempat bagi cawapres. Tepuk tangan pendukung masing-masing cawapres lebih sering terdengar. Misalnya ketika Wiranto, yang diusung Partai Golkar dan Partai Hati Nurani Rakyat, menyebutkan pernyataan Prabowo Subianto, cawapres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya, membingungkan, pengunjung langsung bertepuk tangan.


Ketika jeda iklan, ketiga cawapres jarang berbincang-bincang satu sama lain. Ketiganya selalu sibuk dengan tim ahli mereka atau mencatat sesuatu di secarik kertas. Cawapres Boediono, yang diusung Partai Demokrat dan sejumlah partai lain, lebih sering melihat secarik kertas. Bahkan, saat menyampaikan visi dan misi tentang jati diri, sesuai dengan tema debat semalam, ia terlihat membaca catatannya.


Debat cawapres semalam dipandu Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat. Koordinator Nasional Komite Pemilih Indonesia Jeirry Sumampouw menilai, debat itu tak berbeda jauh dengan debat capres sebelumnya. Percakapan sangat normatif sehingga sulit melihat posisi yang berbeda di antara calon.


”Jika ada yang berbeda mungkin karena moderatornya lebih rileks. Debat ini tidak cocok dengan level pemilih kita karena percakapannya terlalu tinggi, jauh dari realitas konkret kehidupan rakyat. Debat ini lebih pas di ruang akademik,” katanya.


Dosen Hukum Tata Negara dari Universitas Diponegoro, Semarang, Hasyim Asyari, juga menilai, debat cawapres masih belum membumi sehingga tak bisa menampilkan apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan jati diri bangsa itu. Namun, ketiga cawapres tampil seimbang. Kelemahan penampilan yang diperlihatkan Boediono, misalnya, bisa ditutupi dengan materi pemikirannya. Calon lain, Wiranto dan Prabowo, memang lebih ekspresif dan bisa meyakinkan publik.


”Moderator juga belum menggali perdebatan sehingga ketiga calon masih menampilkan pernyataan normatif. Padahal, ada yang bisa digali lebih dalam dan menarik, misalnya saat terjadi konflik di masyarakat, ketiga calon ada di mana? Karena mereka pernah menjabat,” ujar Hasyim.


Hasyim pun menyesalkan, bahasa sebagai salah satu kekuatan jati diri bangsa, sebagai perekat, tidak dibahas secara mendalam oleh ketiga calon.


Terus berutang


Wiranto yang tampil rileks, bahkan dua kali menyanyikan penggalan lagu ”Indonesia Raya” dan ”Ibu Pertiwi”, mengakui, bangsa ini bisa bangkit. Bangkit agar pertiwi tidak berduka.


”Maknanya dalam, penyatuan jiwa dan raga mendorong cipta rasa dan karsa untuk bangsa. Perpaduan kekuatan spiritual dan jasmani mendorong keinginan untuk membela Indonesia. Inilah karakter yang perlu didorong dari bangsa ini,” ujarnya.


Indonesia, menurut Wiranto, punya banyak potensi dan keunggulan komparatif yang luar biasa. Jadi, seharusnya tidak perlu bangsa ini bernasib seperti saat ini. ”Bangsa ini masih terus berutang. Politik tidak membangun kesejahteraan, bahkan justru menyebabkan perpecahan di antara elemen bangsa,” ujarnya.


Menurut Wiranto, Indonesia kehilangan pedoman bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Akibatnya, Indonesia menjadi bulan-bulanan negara lain sehingga tersingkir dan tersungkur dari percaturan global.


Prabowo menilai, akar persoalan bangsa ini terletak pada ketidakmampuan sistem yang dianut sekarang untuk menyelamatkan kekayaan nasional yang tersedot keluar. Padahal, dalam keyakinannya, kekayaan nasional itulah yang bakal menjadi modal utama untuk membiayai berbagai macam kebijakan dan perbaikan di semua sektor dan lini demi terwujudnya masyarakat yang lebih sejahtera.


”Sejarah Indonesia dimulai dari keadaan negara kita yang terjajah. Kekayaan yang kita punya diambil keluar. Namun, sayangnya, sampai sekarang masih banyak masyarakat miskin walau Indonesia sudah merdeka 64 tahun,” ujarnya.


Soal kemiskinan dan jati diri bangsa, Prabowo secara demonstratif menunjukkan uang pecahan Rp 20.000 dari saku bajunya. Ia pun mengingatkan, jangan sampai Indonesia kehilangan jati diri dan menjadi negara kalah karena dianggap sebagai bangsa penyedia tenaga kerja murah dan penyedia bahan baku mentah.


Boediono yang tampil dengan gaya santunnya, tak seekspresif kedua cawapres lain. Ia juga cenderung dalam menanggapi argumen lawan debatnya hanya memberikan pemikiran sehingga lebih tampak untuk melengkapi.


Namun, pernyataan Boediono memperoleh dukungan dari Prabowo, antara lain dalam masalah penempatan agama dalam politik. Mereka sepakat dengan moderator bahwa dalam kenyataannya, agama yang masuk ke ranah politik hanya akan memicu pembusukan.


Menurut Boediono, agama tak selayaknya dijadikan elemen politik praktis. Agama harus berada di atas politik. Untuk itu, negara bertanggung jawab memberikan ruang seluas-luasnya bagi warga negaranya beribadah sesuai dengan keyakinannya. Selama ini, hubungan agama dan negara kerap kali diwarnai friksi.



.

Friday, June 19, 2009

Debat Capres Part I

http://pemilu.detiknews.com/images/content/2009/06/19/708/debatcapres01.jpg

Debat perdana calon presiden yang dipkarakrasi Komisi Pemilihan Umum dimulai, Kamis malam (18/6). Dengan dimoderatori Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, tema yang diambil adalah "Strategi Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih dan Menegakkan Supremasi Hukum" Dalam sesi pertama, para capres diminta menjabarkan visi dan misi mereka tentang tema tersebut.

Megawati Soekarnoputri mendapat kesempatan pertama. Dalam paparannya, Megawati menekankan soal pembangunan mental bangsa. "Ini sangat krusial," katanya. Ia memberi contoh, dalam pembuatan KTP pun masih sangat sulit. Bahkan, ada biaya-biaya tambahan. Jika mental aparat diperbaiki, mestinya hal ini tidak terjadi. Tapi, bersamaan dengan itu, kesejahteraan rakyat juga harus ditingkatkan.

Dalam kesempatan kedua, Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan, jika tata kelola pemerintahan tidak berjalan dengan baik yang muncul adalah pemerintah yang diwarnai korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) dan konflik kepentingan. "Akibatnya iklim ekonomi dan bisnis tidak berkembang...Dari semua itu citra dan martabat bangsa akan terganggu," ujar SBY yang mengenakan jas merah itu.

Jusuf Kalla memperoleh kesempatan terakhir. Ia menyatakan, sebagai bangsa Indonesia mempunyai tujuan, yaitu meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan pendidikan. Untuk mencapai itu tentu pemerintah harus mampu menggerakan bangsa. Karena itu, "Dibutuhkan pemerintah yang bersih dan efektif, dari mulai tingkat presiden hingga lurah," ujar Kalla yang mengenakan jas malam ini.


Paparan Masih Latah, Visi Misi Belum Konkret

Debat Calon Presiden (Capres) yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan tema tata pemerintahan yang bersih dinilai tidak memberikan solusi yang konkret. Para capres seolah mempunyai visi dan misi yang yang hampir sama.

"Capres 3 in 1, karena yang satu bilang A yang lain setuju. Yang satu bilang B yang lain setuju," ujar pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris dalam acara nonton bareng debat Capres dan diskusi di gedung KPU, Menteng, Jakarta Pusat (18/6/2009).

Menurutnya dalam debat capres putaran pertama kali ini mengalami kemunduran. Jika dibandingkan dengan debat capres pada periode yang lalu, belum ada langkah jelas yang diberikan kepada masyarakat agar menjatuhkan pilihannya kepada salah satu pasangan capres.

"Yah semoga saja di putaran berikutnya debat menjadi lebih baik" harap Haris.

Mega Kurang Siap, SBY Lumayan, JK Kurang Data

Permasalahan jatuhnya alat utama sistem persenjataan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia secara beruntun menjadi salah satu pertanyaan yang diberikan moderator Anies Bawesdan kepada tiga pasangan kandidat dalam debat capres, Kamis (18/6) malam ini.

Direktur Pusat Kajian Politik UI Sri Budi Eko wardani menanggapi jawaban yang diberikan ketiga pasangan capres. Menurutnya, Mega kurang siap dalam memberikan jawaban karena tidak menyertakan data yang jelas. "Kayaknya Mega kurang diberi masukan oleh tim kampanye-nya tentang alutsista. Mega menyebut data tetapi tidak jelas," ujarnya.

Di tempat yang sama, pengamat politik Syamsuddin Haris menilai jawaban SBY lumayan karena dilengkapi dengan data-data penunjang. Dalam jawabannya, SBY menyebut anggaran alutsista yang dapat dipenuhi saat ini hanya Rp 35 triliun, padahal dibutuhkan sekitar Rp 120 triliun untuk alutsista. SBY juga berjanji akan meningkatkan anggaran alutsista.

"Yang agak lumayan jawabannya Pak SBY, ada angka. Tetapi dia (SBY) tidak jelas kapan itu dapat dipenuhi. Pada tahun keberapa, apa satu tahun, tiga tahun masa pemerintahannya. Itu kapan tidak disebut," paparnya.

Adapun jawaban yang diberikan JK dinilai kurang memuaskan karena tidak didukung data. "Tidak didukung data. Tetapi poin plus Pak JK itu ada. Masalah membangun senjata di dalam negeri. Ini solusi untuuk mengatasi anggaran yang terbatas," tegasnya.


.

Wednesday, June 17, 2009

Miss Indonesia 2009 ternyata TIDAK Bisa bahasa Indonesia !!


Miss Indonesia's first plan is to learn Indonesian


JAKARTA: The newly crowned Miss Indonesia Kerenina Sunny Halim might have amazed people with her fluent English, but surprised just as many with her poor ability to speak Indonesian.

On the final night of the Miss Indonesia pageant last week, Kerenina needed a translator to help her understand the judges' questions. Kerenina admits this is a weakness but has promised to improve her Indonesian language skills.

"It's been hard for me *to speak Indonesian*, because I use English every day," says the half-American woman. "But I will learn. Indonesian is an easy language, as long as we're willing to learn."

Kerenina's brother, actor Steve Emmanuel (now Yusuf Iman), reveals that his sister was not exposed to Indonesian as a child because she didn't go to a formal school. "She was with homeschooling," Steve says. "She barely uses Indonesian at home, and doesn't go out often *so she can't practice Indonesian*."

The 23-year-old has also promised to learn more about the local culture in preparing for this year's Miss World competition in Johannesburg, South Africa. "Currently, I don't know much *about Indonesian culture*," says the girlfriend of actor Nino Fernandez. "But within six months, I'm going to learn about it all, because I represent Indonesia at the international level."

Kerenina, who holds six diplomas - in public relations; sales and marketing; primary school teaching; economics; performing arts; and music and art - won the competition over the two other finalists, Viviane (from Bali) and Melati Putri Kusuma Dewi (West Sulawesi). Kerenina impressed the judges with her fluent English, and was considered to meet the contest's criteria of MISS (Manners, Impressive, Smart and Social). - JP



.